Menulis dengan Tangan Kiri


Titik-titik hujan datang beriringan. Angin yang melewati sela-sela jendela berhembus syahdu. Sesyahdu hatiku saat itu yang tengah asyik mencorat-coret buku dengan pikiran melayang. Melayang bak layang-layang. Haha.

Dua minggu belakangan ini saya tengah gemar melatih tangan kiri saya untuk menulis dan menggambar. Semua itu bermula ketika saya membaca sebuah artikel tentang seorang anak perempuan yang ambidextrous.  Ambidextrous atau Ambidexterity adalah keadaan dimana seseorang yang mahir menggunakan kedua tangan sama baiknya (contohnya menulis).   Ada yang memperoleh kemampuan tersebut secara natural sejak lahir, namun ada pula yang memperolehnya dengan cara latihan. I'm a right handed person, but I want to practice writing in my left hand. Kakak juga pengen kayak adek, bisa nulis pakai kedua tangan. Sekaligus ataupun tak sekaligus. :3

Saat ini saya sering menulis di buku. Apabila saya lelah dengan tangan kanan maka saya akan mempersilahkan tangan kiri saya untuk menunjukkan kemampuan minimnya dalam hal menulis. Ya, walaupun tak sebagus tangan kanan setidaknya bisa membantu.  Muehehe. Saya kasihan melihat si kiri yang lebih sering menganggur.

Salah satu manfaat menulis dengan tangan kiri ialah untuk menyeimbangkan otak kanan, tapi untuk melatih otak kanan tak melulu hanya menulis dengan tangan kiri. Masih banyak kegiatan lain yang dapat dilakukan seperti menyikat gigi dengan tangan kiri, membuka pintu dengan tangan kiri dan lain-lain. Saya sendiri bukan penganut paham otak kanan yang selalu mengagung-agungkan kemampuannya. Bagi saya pribadi belahan otak kanan dan kiri sama hebatnya. Namun tak ada salahnyakan untuk melatih si do’i ?

Sebagai pengalih stress biasanya saya mendoodle. Sekarang masih sama cuma bedanya saya pakai tangan kiri. Hal nyeleneh lainnya yang baru-baru ini saya lakukan adalah menulis terbalik. Biasanya saya menulis dengan arah normal, namun kadang-kadang saya menulis dengan mode cermin yaitu  tulisan akan  lebih mudah dibaca ketika dihadapkan ke cermin. Hingga disuatu sore yang tak terlalu indah. Teman kos saya masuk ke kamar saya dengan tiba-tiba. Saat itu saya tengah asyik menulis dengan tangan kanan, namun menulis dari arah belakang (mode cermin). Si kakak terheran-heran. “ Dek itu bahasa apa yang adek tulis?” “Bahasa Indonesialah kak, cuman ini kebalek nulisnya” jawab saya sekenanya.
“Hah?? Jadi selama ini adek nulis selalu kayak gitu ya? Adek kelainan?”

Saat itu benar-benar kampret moment menurut saya, mungkin baginya saya ini disleksia.  Si kakak ini adalah orang Vietnam yang kuliah di Indonesia, pembendaharaan katanya masih minim. Jadi kadang-kadang kalau bicara belum pandai dalam hal memilih kata. Wkwkwk. Terkadang saya lucu juga melihatnya.

Well, Berikut beberapa gambar yang saya tulis/gambar dengan tangan kiri.


Writing with left hand

Writing with right hand

Drawing with left hand

Mirror Writing

Tamu Tak diundang

Ketika itu Pekanbaru tengah  diselimuti kabut asap, dan pada saat itu juga rumah saya selalu kedatangan tamu selama empat hari berturut-turut. Mereka selalu datang pada malam hari yang selalu membuat saya tak dapat tidur. (Lagi) kamar saya didatangi tamu tak diundang. Si hewan berbuku-buku (Antropoda) khususnya lipan dan kaki seribu yang kehadirannya selalu mengagetkan saya. Apapun itu, bagi saya mereka itu adalah sesosok monster. 

Bagi pengidap Chillopodophobia (Fobia akan lipan) dan Myriapodophobia ( Fobia akan kaki seribu) pasti menganggap mereka monster. 

Hal yang membuat saya jijik dengan hewan-hewan tersebut adalah jumlah kakinya. Sebelumnya kamar saya tidak pernah dimasuki hewan-hewan ini (di kos baru). Entah kenapa saat itu mereka rajin sekali bertamu. 

Malam itu saya tengah bermain Hp dan tiba-tiba lipan masuk melalui celah bawah pintu. Biasalah lipan kalau jalan sukanya kebut-kebutan. Saya langsung naik pitam dan berusaha menyingkirkan hewan tersebut. Saya segera mengambil ember bukan sapu ataupun yang lainnya karena intuisi saya mengatakan begitu. Ember itu saya gunakan untuk menjepitkan badan gagahnya. Saya hanya berani memandangnya nggak tau mau ngapain, karena kalau ember itu saya angkat pasti lipannya keluyuran lagi dan malah bersembunyi.

 Entah apa dalam pikiran saya saat itu. Lem alteco yang ada di dekat rak sepatu lantas saya raih dan segera melumuri sebagian badan lipan yang muncul di balik ember. Cuuurrr!!! Tidak lama kemudian saya mencoba untuk mengangkat ember tersebut, tetapi ember tersebut justru ikut nemplok di tikar bersamaan dengan si lipan. Saya paksa tarik dan berhasil. Namun tiba-tiba saya merasa berdosa karena telah menyiksanya. Lipan itu tertempel kuat di atas tikar dan nyawanya sudah tak tertolong. Saya coba untuk melepaskannya dengan bantuan kartu plastic dan akhirnya  terlepas. Segera saja jasadnya saya buang ke parit. Hiyy.

Malam berikutnya giliran kaki seribu yang ngeronda. Saat itu mati lampu dan saya hanya berbekal sebuah lilin dengan api kecil yang pasti cahayanya tak mampu menjamah seluruh ruangan. Saya tengah asyik scrolling timeline Facebook saat itu. Punggung saya tiba-tiba berasa tak nyaman. Namun saya biarkan. Rasanya seperti dingin dan mengganjal, lantas saya coba menyentuh punggung saya. Saya mendapati sebuah benda bulat dan keras, mungkin itu batu. Setelah saya lihat dengan bantuan cahaya Hp dan  ”AAa!” untuk pertama kalinya saya memegang luwing. Segera saya lempar dan dia berjalan pelan. Sangat pelan. Pertama-tama saya ingin membakarnya dengan lilin. Namun agama saya melarang  membunuh binatang dengan cara membakar. Maka dari itu saya ambil obat nyamuk lotion dan saya lumuri kebadannya. Dia berjalan sangat cepat dan saya ketakutan. 

Saya ambil parfum dan menyemprotnya. Tubuhnya mengeluarkan cairan kuning seperti minyak. Saya sangat kasihan melihatnya tapi saya juga sangat ketakutan. Yang biasanya luwing berjalan lambat kali ini ia berjalan agak cepat. Untuk terakhir kalinya saya ambil H*rpic (pembersih toilet) dan saya siram ke badannya, seketika itu juga badannya mengembang dan akhirnya mati.

Huufttt...
    
Untuk malam-malam berikutnya saya menemukan mereka di lantai dan di dinding. Yang di lantai saat itu ia tengah mendayuh-dayuh kakinya ke arah saya. Namun saya coba untuk lebih tenang dan berfikir positif. Saya keluar cari sapu dan mengusirnya ke luar kamar. Tapi saya masih kawatir jika mereka datang kembali.

Malam besoknya saya sudah membentengi celah bawah pintu saya dengan cairan H*rpic yang saya teteskan di sepanjang celah pintu dengan harapan para hewan itu tidak berani masuk setelah mencium baunya dari kejauhan.

Keesokan paginya saya menemukan mayat kaki seribu yang tergeletak di depan pintu. Benar-benar saat itu H*rpic telah menolong saya yang sangat phobia akan mereka.


 Alhamdulillah sampai saat ini  mereka tidak pernah datang lagi. Bagi yang tidak nyaman dengan kolong pintu yang terbuka dan tak ingin ada serangga masuk, seperti kejadian-kejadian yang saya alami (biasanya kecoak, lipan, kaki seribu, dan semut). Bisa dicoba menggunakan penutup kolong pintu yang banyak dijual di toko online. Dulu saya hanya menyempilkan kain-kain untuk menutup kolong tetapi kurang praktis jadi saran saya bisa di coba hehe.  

Sumber : Tokopedia

Hitam, Panjang dan Menakutkan.

Lagi asik-asik online tiba-tiba di samping gue ada item-item melintas cepet banget. Awalnya gue kira itu lalat atau pun kecoa. Yaa awalnya sih ga peduli amat soalnya gue juga lagi asik maen game Friv (bocah banget kan gue :D) tapi tiba-tiba perasaan gue ngga enak dan akhirnya gue memutuskan untuk mencari tau apa yang lewat barusan. Pas gue singkirin buku-buku yg ada di lantai, gue pun melihat ada sosok panjang, item dan penuh dengan kaki. Hayoo apa itu ! Ya. Sepertinya itu lipan atau pun kelabang. Setelah melihat itu, lantas gue langsung berdiri tegak menjauh dari ranjang tempat gue duduk tadi. Sekarang posisi gue ada di depan pintu. Seluruh badan gue merinding. Gue ga berani untuk mendekat ke kasur.  Ngga tau sampai kapan gue bakal terus berdiri kayak begeneh.




Masih dalam keadaan ketakutan eh tiba-tiba tu hewan muncul dari meja dus dan gue langsung panik dan dengan kurang ajar dia masuk lagi ke meja dus satunya. Sumpah gue gerem banget. Gue nunggu sampai hewan itu keluar dari meja, dan benar saja, akhirya lipan itu keluar dari meja dan pergi dari kamar gue. Huh legaaa rasanya. Tapi gue masih belum puas, soalnya gue ngga tau dia pergi kemana, takut aja kalau tiba-tiba dia muncul lagi ke kamar gue. Sebenarnya pengen banget gue hancurkan, pengen banget gue strika sampe renyah. Tapi itu cuma gaya-gayaan gue aja. Jangankan menghancurkan, mendekat aja gue uda ogah banget.

Kalo misal ada ular dan lipan yang ngga berbisa gue lebih milih megang ular ketimbang lipan. Kalo lu gimana?

Lipan atau kelabang yang bahasa inggrisnya: centipede adalah salah satu sosok yang paling gue benci. Hewan ini lincah banget. Naik darah gue kalau uda liat hewan ini. Mandanginya aja uda merinding tongg….


Dulu pas gue masih SMP  pernah semalaman ngga tidur karena ngebayangin hewan ini muncul tiba-tiba, gue takut kalau-kalau dia masuk ke telinga. Ga kebayang kan...
 Setelah tragedi lipan masuk ke kamar gue, mulai sekarang gue memutuskan tidur menggunakan earmuff winter.

Gue selalu berdoa semoga ngga ada lipan2 lain yang bertamu ke kamar gue. Semoga kejadian itu adalah yang pertama dan yang terakhir. Gue paling males sama ulat-ulatanan,lipan-lipanan dan hewan panjang lainnya.

Ini gue ada beberapa tips biar ngga ada lipan yang mau masuk ke dalam kamar lu.

1 1. Jangan biarkan ada area lembab di sekitar kamar lu, karena lipan suka nongkrong di tempat-tempat lembab.

2 2. Menggunakan  Cuka, garam dan soda api. Campurkan semua bahan ke dalam air. Cuka dan garam lima sendok, soda api cukup satu sendok. Masukkan ke dalam air. Kira-kira seember kecil dan gunakan air campuran tadi untuk ngepel bagian kamar lu. Dijamin lipan bakal mikir keras untuk masuk ke kamar lu.

3 3. Menggunakan kapur barus. Letakkan kapur barus di sudut-sudut ruangan atau di depan pintu kamar lu, biar ngga ada yang berani masuk

Tips 2 dan 3 sih gue belum pernah nyoba, paling-paling gue cuma gunain kain doang buat disumpelin di sela-sela bawah pintu. Temen gue bilang gue terlalu lebai dalam mengatasi lipan ini. Toh lu kan juga tau mencegah lebih baik daripada mengobati. Ga kebayang kan kalo-kalo lu sampai disengat lipan. Widih gue sih ogah banget. Ya jadi gitu lah…

Gara-gara lipan gue pun jadi kepo buat nyari tau tentang perlipanan.
Ada beberapa negara yang suka mengkonsumsi makanan aneh bin ekstrim ini salah satunya di Beijing-China. Mereka biasanya mengkonsumsi lipan atau kelabang dalam bentuk sate. Sumpah jijik banget gue. Kata mereka rasanya pahit dan agak keras -_-. Kalo lu pingin nyoba jangan lupa bawa tusuk gigi. Kaki-kaki lipan yang tajam akan menyelip di sela-sela gigi lu.

Masih ngga jauh2 dari kelabang atau lipan.
Lu tau film The human Centipede? Atau manusia kelabang. mungkin sebagian dari lu  sudah ada yang menonton film ini bukan? karena film ini sudah di tayangkan di tahun 2009
Ini merupakan sebuah film bergenre thriller-horror berasal dari Belanda.  Bercerita tentang seorang dokter yang melakukan eksperimen mengerikan mengenai penyambungan tubuh manusia seperti kelabang. Yahh pokoknya gitu deh kalo lu belum pernah nonton googleng aje. Jujur gue sendiri belum pernah nonton, mungkin kalo ada waktu gue bakal download semua squencenya.


Oke deh sekian tentang kelabang.
Adios :D







Kamar Kos Perdana

Assalammualaikum..
Holla semuaa..
Ini pertama kalinya gue posting tentang kehidupan baru gue disini. Sekarang gue udah beralih menjadi anak rantau. Melalang buana di kota orang. Meninggalkan kota kelahiran tercinta yaitu Batam. Sekarang gue tinggal di pekanbaru untuk melanjutkan pendidikan.  Gue kuliah di UIN Suska Riau dan mengambil jurusan Pendidikan bahasa Inggris. Alhamdulillah gue lulus SNMPTN waktu itu.  Gue sebenarnya pingin ambil jurusan sastra inggris tapi berhubung di univ gue ngga ada jurusan itu yaaa gue ambil yang mendekati aja yaitu pendidikan bahasa inggris. Padahal gue ngga mau jadi guru waktu itu, jujur gue orangnya ngga sabaran. Jadi dosen kayanya agak mendingan.

Tinggal jauh dari orang tua ternyata nggak semudah ngembangin hidung. Mungkin karena terbiasa hidup manja dan sekalinya tinggal disini semuanya jadi serba sendiri kaya lagunya pedangdut sebelah…

Gue masih beruntung disini banyak sodara. Walaupun jaraknya agak jauh setidaknya gue nggak sebatang kara. Gue juga beruntung karena sahabat gue juga tinggal di kota ini. Kita sama-sama merantau untuk kuliah.

Terkadang gue merasakan homesick yang tak tertahankan. Selalu ingat Ayah, Ibu, adik-adik dan kucing kesayangan gue. Di kosan tempat  gue tinggal sekarang ngga ada kucing, kalaupun ada itu hanya kucing tetangga. Kucingnya cantik tapi dikurung mulu. Biasanya di Batam gue selalu kumpulin tulang ikan buat makan kucing gue. Giliran disini semua tulang ikan gue ungsikan ke tempat sampah. Huaa rinduu segalanya... 


Huaah sudahlah gue nggak mau bersedih-sedih. Lagian tujuan gue disini untuk belajar dan meniti karir menuju kesuksesan yang hakiki. :V

Baiklah sekarang ke inti judul.
Ukuran kamar kos gue disini sebenarnya ga jauh beda sama kamar kesayangan gue di Batam. Cuma kalau disini langit-langit kamarnya lebih tinggi. 

Ini beberapa foto keadaan kamar gue yang cukup sederhana.


Ini kasur mungil gue. Sebagian besar barang-barang yang nemplok disitu gue adopsi dari kamar gue di Batam. Sebenarnya gue pingin ngecat kamar ini. gue ga suka banget sama warnanya.  Tapi berhubung ini bukan bed sweet bed gue jadi biarlah dia seragam dengan kamar-kamar lainnya. Ntar bisa-bisa gue di tegor lagih sama empunya kosan ini.



Gue sih bilangnya ini kantor. Haha meskipun hanya secuil tapi disinilah tempat gue berkarya dan berjibaku dengan tugas.




Ini perpustakaan mini gue.  Buku-buku yang lain telah gue ungsikan di lemari pakaian karena ngga cukup kalo ditampung disini semua. Meja yang ada disitu sebenarnya hanya dus yang gue kemas dengan bungkus kado. Keadaannya mulai cekung karena tak memiliki daya utuk menampung buku-buku gue yang sebagian besar masih rapi jali a.k.a belum pernah dibaca… :V


Yaa itulah keadaan di sebagian sudut kamar gue. walaupun hanya kecil dan sederhana tapi gue bersyukur. Dengan segenap syukur dihati gue. Hidup gue menjadi lebih Indah. La la la..

Wassalam.

SAYA LIMA TAHUN LAGI

NAMA      : DESFINDAH RANITA
FAK          : TARBIYAH DAN KEGURUAN
JURUSAN  : PBI


SAYA LIMA TAHUN LAGI



Dunia perkuliahan telah menjadi pilihan saya sebagai modal untuk mencapai seglala harapan saya di masa mendatang kelak.
Semua orang pasti telah memegang alasannya sendiri untuk melanjutkan studi mereka ke perguruan tinggi. Berbagai alasan yang melatarbelakangi pilihan mereka, namun semuanya tetap berpaku pada satu tujuan yaitu “SUKSES”. Memang tak semua orang yang ingin atau berkesempatan untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi karena berbagai alasan, namun siapa yang tak ingin sukses? Pastilah semua orang memiliki jalan dan caranya sendiri untuk mencapai impian mereka.
Sebenarnya kuliah tak menjamin kita untuk sukses. Seperti yang kita sadari sukses itu hanyalah datang dari usaha kita sendiri. Kuliah hanya sebagai wadah dalam pencapaian kita.
Sebelumnya saya telah mengevaluasi diri saya sejak awal, mau jadi apakah saya kelak?  Dalam berbagai pertimbangan untuk lanjut ke perguruan tinggi, sebenarnya saya telah menggantungkan beberapa cita-cita yang telah saya targetkan berhasil dalam lima tahun kedepan. Dengan menganggap kuliah sebagai investasi, saya berharap akan mendapatkan keuntungan yang berlipat-lipat dalam pencapaian saya nanti.
Kecintaan saya dalam bidang tulis-menulis mengantarkan saya untuk bercita-cita menjadi seorang penulis. Saya memang tak begitu mahir dalam dunia baru saya ini, namun saya yakin dengan bekal dan ketekunan maka tak ada yang tak mungkin. Bersifat perfeksionis terkadang membuat saya sulit dalam menciptakan suatu tulisan dan saya pun telah beberapa kali mengalami writer block, akan tetapi dengan segenap masalah tersebut saya tetap berusaha untuk tidak takut akan salah karena dari salah-lah saya belajar.  Disamping itu saya juga bercita-cita menjadi seorang pengusaha, namun belum tergambar jelas usaha apa yang akan saya geluti nanti. Saya pikir dengan mengikuti organisasi kampus  bisa menjadi salah satu modal untuk saya aplikasikan di lapangan kelak.
Selain itu saya juga bercita-cita menjadi seorang dosen. Tak ada salahnya bermimpi kan? Asalkan kita mau berusaha merealisasikan impian kita tersebut. Ingatlah selalu cita-cita kita untuk tamat sesuai target. Inilah waktu untuk bergerak dan mendesain masa depan. Belajar dengan tekun, banyak berdoa dan memperbanyak relasi adalah suatu kewajiban.
Saya yakin lima tahun lagi saya akan sukses.
Aamiin.  

Ini hanyalah sebuah fragmen tentang kehidupan saya. Saya berharap dengan tulisan singkat ini dapat menginspirasi atau menghibur pembaca.
Syukron.

Diberdayakan oleh Blogger.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...